Traction for Islamic Microfinance Continues

Scroll down for Bahasa Indonesia Version

I was pleasantly surprised to receive an email message this morning from SSRN (Social Science Research Network) that one of my publications “Introduction to Islamic Microfinace” has been recently listed on SSRN’s Top Ten download list for the subtopic of Microfinance. I knew that top ten Lists are updated on a daily basis. So at the first opportunity I rushed to check the link Microfinance (Sub-Topic) Top Ten. As I browsed through the list, a bigger surprise awaited me. Another publication of mine “Islamic Microfinance Development: Challenges and Initiatives” co-authored with Dr Tariqullah Khan was staring at me at Number 5! Both the papers have been downloaded 2710 and 3285 times respectively.

Well, these are downloads after all. Isn’t there a better metric than this to know if the readers found anything worthwhile therein? I checked Google Scholar. The Google citation rank was different for the two papers. Google found that the first paper has been cited by 317 publications while the second has been cited by 275 publications. Alhamdulillah.

As I browsed through the PDF copies available at the sites I was reminded of my field visits to Bangladesh and Indonesia in quick succession in the year 2007–08 to study the microfinance experiments in these countries. The mood in organizations like Grameen, BRAC, Bank Islami Bangladesh and other MFIs was upbeat. My first destination was Dhaka. Microfinance professionals everywhere were still basking in the glory of the Nobel Peace prize being awarded to Dr Muhammad Yunus, the founder of Grameen the year before. Someone told me, you have come to the right place. You are at the university of microfinance.

My visit to Bangladesh was followed by a visit to Indonesia. Here I was introduced to the concept of integrating zakat and sadaqah funds with microfinance in the form of programs of transformation from mustahiq-to-muzakki (M2M) undertaken by Bank Muamalat, the unique two-tier Baitul Maal wat Tamweels (BMTs), and the stand-alone rural banks (BPR and BPRS). I had the privilege of visiting a BMT called Dana Ukhuwa in the company of Late Prof Dr Ameen Aziz who as Chairman of PINBUK is credited with mainstreaming of the indigenous BMT or Islamic financial cooperative model. I liked everything about the people, the institutions, the systems in place that sought to implement a unique “Islamic” model of microfinance. As I departed for Jeddah, I said to myself: Saya akan kembali ke Indonesia.

I wrote the first document, Islamic Microfinance Development: Challenges and Initiatives narrating my experiences. Then came the realization that I had learnt so much from Indonesia, the university of Islamic microfinance that I should be sharing a lot more. I wrote the second document Introduction to Islamic Microfinance as a training resource and experimented with it at the first ever workshop on Islamic microfinance organized by IBF Net India in the year 2009 at two locations, New Delhi and Chennai in quick succession.

Now after over a decade and half since those visits, I am fortunate to be back as a resident of Indonesia. I am both excited and inspired by the response from the researcher community to these tiny monographs. Perhaps it is time I should embark on a more ambitious and expanded writing and/or capacity building project on the subject.

By Dr. Mohammed Obaidullah, Chairman, IBF Net Group

Kabar baik hadir dari founder IBF NET Group, Dr. Mohammed Obaidullah. Sebagai salah satu pakar ekonomi Islam global, penelitiannya masuk dalam top 10 oleh Social Science Research Network (SSRN) dalam kategori Keuangan Mikro. Publikasi riset yang berjudul “Introduction to Islamic Microfinance” telah diunduh sebanyak 2.710 kali. Sedangkan, untuk publikasi riset lainnya bahkan masuk urutan 5 teratas dengan judul “Islamic Microfinance Development: Challenges and Initiatives” yang ditulis bersama Dr Tariqullah Khan. Publikasi ini diunduh sebanyak 3285 kali.

“Saya sangat terkejut ketika menerima pesan email pagi itu dari SSRN bahwa publikasi saya masuk di top 10 paling sering diunduh, dan urutan ke 5 untuk publikasi yang ditulis bersama Dr. Tariqullah Khan. Alhamdulillah,” ujar Dr. Mohammed Obaidullah. Dari banyaknya unduhan ini, kita dapat melihatnya sebagai metrik. “Apakah pembaca dapat menemukan sesuatu yang berharga dari publikasi ini? Saya pun kemudian memeriksa Google Cendekia,” tambahnya. Dalam penelusuran tersebut, ia mendapatkan bahwa makalah pertama telah dikutip oleh 317 publikasi sedangkan makalah kedua telah dikutip oleh 275 publikasi.

Sambil terus menelusuri salinan PDF yang tersedia di situs tersebut, Dr. Obaid mengenang masa-masa saat ia berkunjung ke Bangladesh dan Indonesia secara berurutan pada tahun 2007–2008. Pada tahun tersebut, ia mempelajari eksperimen keuangan mikro di negara-negara ini. Tujuan pertamanya adalah Dhaka. Para profesional keuangan mikro di mana pun saat itu bergembira atas penghargaan Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen setahun sebelumnya. “Perasaan saya membuncah, mengingat suasana ketika terlibat dalam organisasi seperti Grameen, BRAC, Bank Islami Bangladesh dan LKM lainnya. Seseorang mengatakan kepada saya: Anda telah datang ke tempat yang tepat. Anda berada di universitas keuangan mikro,” kenangnya.

Kunjungannya ke Bangladesh lalu dilanjutkan ke Indonesia. Di Indonesia, ia diperkenalkan dengan konsep pengintegrasian dana zakat dan sadaqah melalui keuangan mikro dalam bentuk program transformasi dari mustahiq ke muzakki (M2M) yang dikelola oleh Bank Muamalat, Baitul Maal Wat Tamweels (BMT), Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPR dan BPRS). Ia mendapat kehormatan untuk mengunjungi Baitul Maal Wat Tamweels (BMT) bernama Dana Ukhuwah bersama almarhum Prof. Dr. M. Amin Aziz, yang merupakan perintis sekaligus ketua dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), organisasi resmi yang mengurus BMT lokal atau model koperasi keuangan Islam di Indonesia.

“Saya menyukai segala sesuatu tentang orang-orangnya, lembaga-lembaganya, sistem-sistem yang menerapkan model keuangan mikro “Islami” yang unik. Saat berangkat ke Jeddah, saya berkata dalam hati: Saya akan kembali lagi ke Indonesia. Saya menulis dokumen pertama, Islamic Microfinance Development: Challenges and Initiatives yang menceritakan pengalaman saya. Saya menyadari bahwa saya telah belajar banyak dari Indonesia, universitas keuangan mikro Islam yang harus saya bagikan lebih banyak lagi,”ungkapnya.

Selanjutnya, Dr. Mohammed Obaidullah menulis dokumen kedua Pengantar Keuangan Mikro Islam sebagai sumber pelatihan dan mencobanya pada lokakarya pertama tentang keuangan mikro Islam yang diselenggarakan oleh IBF Net India pada tahun 2009 di dua lokasi, yaitu New Delhi dan Chennai secara berurutan.

“Setelah lebih dari satu setengah dekade sejak kunjungan itu, saya beruntung bisa kembali sebagai penduduk Indonesia. Saya senang, sekaligus terinspirasi oleh tanggapan dari komunitas peneliti terhadap monograf kecil ini. Proyek penulisan dan/atau peningkatan kapasitas pada subjek tersebut akan semakin dikembangkan,” tutupnya.

--

--

Leveraging Research and Technology for a Halal Ecosystem

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store